‘It’s hard for me to say, I’m jealous of the way you’re happy without me’
Lirik Labrinth tadi menggugah pikiran saya, terus dan terus.
Pandemi belum usai, tapi saya seperti merasa hidup saya sudah selesai. Sebelum akhirnya tulisan ini berakhir dengan lirik tadi, lebih baik saya menuangkan segenap rasa yang saya pelajari dari masa pandemi ini.
Menjadi Diri Sendiri
Kata teman kecil saya, “Semua orang jadi elo, di masa pandemi ini!” Itu karena semua orang sekarang selalu cuci tangan atau pakai hand sanitizer dan selalu menjauhi kerumunan atau bahkan orang lain (terutama orang yang sedang batuk atau terlihat sakit). Itu saya banget. Paling tidak suka dekat-dekat dengan stranger di tempat umum dan selalu menggunakan hand sanitizer dan mencuci tangan, secara konstan. Jadi, sekarang saya boleh bangga menjadi bagian dari ‘ke-new-normalan’ ini. Bahwa saya bukanlah makhluk aneh (lagi!).
Jangan Egois
Bahwa pandemi itu mengajarkan kepada saya, kita tidak sendiri. Selalu ada orang di sekitar kita yang harus kita bantu. Bahkan untuk hal kecil sekalipun, seperti memakai masker adalah bentuk ketidakegoisan seseorang. Bahwa ada orang lain yang harus kita perhatikan atau pedulikan setiap detik, agar kita tidak menularkan virus pada sesama.
Begitupun dengan kondisi bisnis dan ekonomi yang tidak menentu sejak pandemi, membuat kita saling membantu sesama. Berbagi dengan mereka yang membutuhkan.
Kebersamaan vs Konflik
Sesaat setelah terjadinya pandemi, kita mengalami yang namanya Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB). Semua orang WFH, work from home. Semua orang #di rumah saja. Senang, tentu saja.
Di awal, semua bentuk kebersamaan pasti menyenangkan. Tapi segera setelah hal ini terjadi sekian lama, konflik tak bisa dielakkan. Manusia yang tak biasa terus menerus bersama dalam satu tempat tinggal, pastinya akan menimbulkan friksi. Either you make it, or break it. That is how it does.
Koneksi Spiritual
Saya bingung menjelaskan dua kata ini. Intinya: saya jadi lebih kenal dengan semesta, Sang Pencipta, entah mengapa. Tepat setahun lalu, saya terkoneksi dengan seseorang yang menuntun saya untuk mendekatkan diri pada-Nya. Kalau ditanya bagaimana kronologisnya, well I can’t answer that, ha..ha.. karena saya sendiri tidak tahu proses rincinya. Saya hanya tahu, saya ingin menjadi dekat dengan-Nya. Thanks to that particular someone. Namaste.
Kehilangan …
Adalah rasa yang kelam. Pahit. Tidak menyenangkan tapi harus dirasakan, dihadapi, dijalani. Saya sampai pada satu titik merasa bahwa hidup saya sudah selesai, walaupun pandemi belum sepenuhnya usai. Ini semua terjadi setelah saya mengetahui bahwa sahabat terdekat saya meninggal dunia akibat virus C, virus yang jadi sumber masalah selama masa pandemi ini.
Saya tidak bisa membayangkan bagaimana orang lain bisa bertahan dari rasa kehilangan yang juga mereka alami di masa pandemi ini, tapi yang saya tahu, saya nyaris tak mampu menjalani hari-hari ini. Sedih. Tak terbantahkan. But, anyway, thank you for being the purest friend I’ve ever known. Thank you for all the things that you have taught me for the last six months. Thank you, thank you, thank you. Without you, days are hard, and nights are the hardest. But, I’ll be fine, as long as you’re happy. Even though, you’re happy without me.
‘It’s hard for me to say, I’m jealous of the way you’re happy without me.’ (*)
Photo by Matteo Jorjoson on Unsplash

