Buku Resep Katarsis

Buku Resep Katarsis

Well, sorry buat kamu yang berpikir ini adalah tulisan tentang resep masakan. Kamu salah. Saya bukan wanita yang hobi masak, let alone jago. He..he… next time ya, saya cari contekan resep dulu, baru saya tulis di sini.

Apa itu katarsis? Menurut google, katarsis adalah kata yang dipopulerkan oleh Sigmund Freud, yang berarti adalah pembersihan atau penyucian diri. Dilansir dari website npr, rupanya di awal pandemi, ada beberapa penulis buku resep yang bukan hanya sekadar menulis resep masakan, tapi juga sambil menggambarkan keadaan emosional sang koki saat itu.

Contoh saja Sandra Wu, si penulis buku berjudul ‘Feel Good Smoothies’. Dia menggambarkan suasana pembuatan smoothies di awal pandemi. “Like, ugh, let’s press blend. Let’s put in some liquid, like ugh, and get in there. Semua rasa marah, frustrasi, dan takut bercampur kemudian meleleh jadi satu, seperti halnya buah stroberi dalam mesin blender-nya.

Menurut Paula Forbes, publisher Stained Page News, sekarang mulai bermunculan buku-buku resep masakan yang lebih memfokuskan diri pada rasa marah/ situasi emosional si pemasak saat memasak ketimbang kesenangannya. Seru, ya.

Saya juga pernah menonton beberapa video saat awal pandemi, di beberapa media sosial, yang memperlihatkan resep memasak sambil misuh-misuh (kalau tidak salah adalah bahasa Jawa, yang berarti mengumpat). Ha.. ha…

Jujur, saya sangat enjoy menontonnya. Sangat. What’s wrong with me, saya bertanya dalam hati. Tapi, ah rasanya tidak ada yang salah. Memang mungkin gaya memasak sambil mengumpat bisa jadi alternatif baru saja buat tontonan di kala pandemi. Karena kita mulai bosan. Padahal saat itu, pandemi baru saja dimulai. Aneh, kan?

Masih menurut Paula, “Rage baking itu controversial.” Banyak judul-judul buku memasak yang bertema emosional, seperti ‘Procrastibaking: 100 Recipes for Getting Nothing Done in The Most Delicious Way Possible’ dari Erin Gardner, ‘Baking By Feel’ karya Becca Rea-Halloway dan Recipe for Disaster: Good Food for Bad Times yang ditulis oleh Alison Riley.

Ada lagi buku yang ditulis sebelum kita memasuki pandemi, berjudul Steamed: A Catharsis Cookbook, karya dua penulis asal San Fransisco, Rachel Levin dan Tara Duggan. Menurut kedua penulis tadi, aktivitas memasak bisa menjadi penyaluran energi di saat sedang merasa emosional. Sebagai coping mechanism, lebih tepatnya. Agar tercapai suasana hati yang lebih tenang.

Menjalani kondisi pandemi seperti sekarang ini, tentunya kita punya cara masing-masing untuk mengatasi segala situasi emosional yang muncul karenanya. Semua orang mengalami tantangan hidupnya masing-masing dan harus bisa bertahan sambil berproses secara emosional.

Apa mungkin dapur jadi pelarian kita? Why not? Lagipula, kita butuh makan. Jadi, tinggal pilih, mana yang lebih mencerminkan emosi kamu saat menyiapkan masakan? Siapa tahu jadi kreatif. (*)

Photo by S O C I A L . C U T on Unsplash

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *